JAKARTA – Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026), menjadi saksi sebuah pertemuan antara kenangan, persahabatan, musik, dan perjalanan panjang seorang anak zaman.
Di tempat itu, Erros Djarot meluncurkan sekaligus membedah Autobiografi Jilid 2 dan 3, melanjutkan catatan perjalanan hidup yang sebelumnya telah dituangkan dalam Jilid 1 dan buku Erros Djarot: Apa Kata Sahabat pada Oktober 2025.
Namun, acara tersebut terasa jauh lebih dari sekadar peluncuran buku.
Sejumlah tokoh nasional hadir dan membawa kisah serta kenangan masing-masing tentang Erros Djarot. Megawati Soekarnoputri hadir langsung dan memberikan testimoni mengenai hubungan persahabatan serta perjalanan yang pernah dilalui bersama Erros.
Hadir pula mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, aktris Christine Hakim, serta keluarga besar Bung Karno.
Beragamnya latar belakang para tamu tersebut seolah menggambarkan perjalanan hidup Erros yang memang tidak pernah berada hanya di satu ruang. Ia bergerak dari musik dan film ke kebudayaan, dari pergaulan seniman ke dunia politik, serta dari ruang kreativitas menuju berbagai pergulatan pemikiran tentang Indonesia.
Ketika Masa Lalu Kembali Hadir
Autobiografi bagi Erros Djarot tampaknya bukan sekadar upaya mengingat masa lalu.
Ia membuka kembali berbagai fase kehidupan yang pernah dilalui, termasuk perjumpaan dengan orang-orang yang memberikan warna dalam perjalanan hidupnya.
Di antara pesan yang kuat dari pemikiran Erros adalah keberanian untuk mengatakan kebenaran, meskipun terkadang kebenaran tersebut tidak nyaman untuk didengar.
"Sampaikan kebenaran itu walau menyakitkan. Sebelum kebenaran yang kau sembunyikan menggerogoti pikiran dan batinmu selamanya.”
Kalimat tersebut menjadi semacam refleksi atas keberanian seseorang untuk meninggalkan kesaksian mengenai perjalanan hidupnya.
Sebab ketika seseorang menulis autobiografi, ia tidak hanya sedang bercerita tentang dirinya. Ia juga sedang meninggalkan perspektif mengenai zaman yang pernah dilaluinya.
Membaca Erros dari Berbagai Perspektif
Suasana semakin menarik ketika acara memasuki sesi bedah buku.
Wartawan senior Bambang Harymurti memandu diskusi yang menghadirkan mantan Menteri BUMN Laksamana Sukardi, mantan Kapolri Jenderal (Purn) Suroyo Bimantoro, dan cendekiawan Haidar Bagir.
Tiga latar belakang yang berbeda tersebut memberikan cara pandang yang beragam terhadap sosok Erros Djarot.
Erros tidak hanya dibaca sebagai seniman atau musisi, tetapi juga sebagai pribadi yang hidup di tengah berbagai perubahan sosial dan politik Indonesia.
Pengalaman, persahabatan, pilihan sikap, serta pemikirannya menjadi bagian dari cerita besar yang ikut membentuk perjalanan Indonesia pada masanya.
Bedah buku pun berkembang menjadi ruang refleksi. Para pembahas dan tamu yang hadir tidak sekadar membicarakan isi buku, tetapi juga menghidupkan kembali berbagai cerita tentang sosok Erros yang mungkin tidak seluruhnya dapat ditemukan dalam catatan sejarah formal.
Musik Menjadi Jembatan Kenangan
Jika buku menjadi medium untuk bercerita, musik menjadi medium untuk mengenang.
Rangkaian acara dibuka oleh MC Ade Andrini dan dilanjutkan penampilan Mia Ismi serta Farman Purnama.
Fryda Luciana kemudian tampil membawakan “Merpati Putih”, diiringi Adi Adrian dari KLa Project. Adi Adrian selanjutnya mengiringi Once Mekel membawakan “Selamat Jalan Kekasih”.
Setelah sesi bedah buku, suasana nostalgia kembali menguat melalui penampilan para musisi.
Balawan mengiringi Once Mekel membawakan “Pelangi”. Dira Sugandi kemudian tampil dengan “Ketika Cinta Kehilangan Kata”, disusul Sastrani melalui lagu “Semusim”.
Lagu-lagu tersebut membawa suasana kembali ke masa ketika karya musik bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.
Puncak acara berlangsung ketika seluruh artis tampil bersama membawakan “Indonesiaku”, karya Erros Djarot.
Lagu tersebut menjadi penutup yang simbolis: sebuah karya yang mempertemukan seni, rasa kebangsaan, dan perjalanan panjang sang penciptanya.
Bukan Sekadar Autobiografi
Erros Djarot telah melewati berbagai fase kehidupan. Karena itu, tiga jilid autobiografi yang kini telah hadir dapat dibaca sebagai lebih dari sekadar kisah seseorang tentang dirinya sendiri.
Di dalamnya terdapat potongan perjalanan seni, kebudayaan, persahabatan, politik, serta berbagai peristiwa yang pernah mengiringi perjalanan bangsa.
Jilid 2 dan 3 sekaligus memperluas catatan yang telah dimulai melalui Jilid 1.
Sementara buku Erros Djarot: Apa Kata Sahabat memberikan perspektif dari orang-orang yang pernah mengenalnya, autobiografi memberikan kesempatan kepada Erros untuk menyampaikan kisah dari sudut pandangnya sendiri.
Dua perspektif tersebut menjadi penting karena perjalanan seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Ada orang-orang yang hadir, ada peristiwa yang membentuk, ada pilihan yang harus diambil, dan ada prinsip yang dipertahankan.
Meninggalkan Catatan untuk Generasi Berikutnya
Di tengah zaman yang bergerak semakin cepat, catatan personal dari para pelaku sejarah memiliki nilai tersendiri.
Tidak semua cerita perjalanan bangsa tercatat dalam dokumen resmi. Sebagian justru hidup dalam ingatan, persahabatan, karya seni, percakapan, dan pengalaman orang-orang yang berada di dalamnya.
Melalui autobiografinya, Erros Djarot memilih untuk meninggalkan jejak tersebut.
Peluncuran Jilid 2 dan 3 di Gedung Kesenian Jakarta akhirnya menjadi sebuah pertemuan lintas generasi: para sahabat lama datang membawa kenangan, para seniman menghadirkan kembali karya, sementara generasi berikutnya memperoleh kesempatan untuk membaca perjalanan seorang tokoh dari dekat.
Dan ketika musik “Indonesiaku” bergema di penghujung acara, nostalgia itu seolah menemukan maknanya sendiri.
Bahwa hidup bukan hanya tentang berapa lama seseorang berjalan, tetapi juga tentang apa yang ditinggalkan setelah perjalanan itu selesai.










LEAVE A REPLY