Home Ekonomi Kreatif Kadin Indonesia Harapkan Volume Perdagangan Indonesia-Yaman Meningkat

Kadin Indonesia Harapkan Volume Perdagangan Indonesia-Yaman Meningkat

Indonesia-Yaman teken MoU Penjaminan Produk Halal 

59
0
SHARE
Kadin Indonesia Harapkan Volume Perdagangan Indonesia-Yaman Meningkat

Keterangan Gambar : Ir. Mohamad Bawazeer (foto aboe)

JAKARTA, pjminews.com- Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia  Komite Timur Tengah Ir. Mohamad Bawazeer mengharapkan volume perdagangan antara Indonesia dan Yaman bisa meningkat dan segala hambatan, terutama dalam pengurusan sertikat halal,  bisa dihilangkan.  

Hal itu disampaikan Mohamad Bawazeer usai menyaksikan penandatanganan MoU antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Yaman tentang Kerja Sama Penjaminan Produk Halal di Gedung Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Jalan Raya Pondok Gede No. 13, Pinang Ranti, Jakarta Timur, Kamis (30/7/2026).

MoU ditandatangani ole Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan mewakili Pemerintah Republik Indonesia dan Yang Mulia Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh mewakili Pemerintah Republik Yaman. Penandatanganan turut disaksikan para pelaku usaha dari kedua negara.

Lebih jauh Mohamad Bawazeer mengatakan, kerja sama antarpemerintah tersebut merupakan implementasi dari kesepakatan yang telah dirintis dunia usaha kedua negara.

"Sekitar setahun lalu Kadin Indonesia dan Kadin Yaman telah menandatangani MoU. Salah satu isinya adalah mempermudah masuknya produk-produk Yaman ke Indonesia, terutama dalam proses sertifikasi halal. Jadi sebenarnya hari ini merupakan elaborasi atau implementasi dari kesepakatan yang sudah kita buat dalam MoU sebelumnya," kata Mohamad Bawazeer.

Menurut Bawazeer, hubungan dagang Indonesia dan Yaman selama ini masih relatif kecil dan belum mencerminkan potensi ekonomi kedua negara. Kehadiran MoU di bidang penjaminan produk halal diharapkan menghilangkan hambatan perdagangan, terutama untuk komoditas pangan yang memerlukan sertifikasi halal.

"Perdagangan Indonesia dengan Yaman memang masih kecil. Kami berharap dengan adanya MoU ini stagnasi impor dari Yaman yang berkaitan dengan masalah makanan dapat tereliminasi sehingga tidak lagi menjadi kendala. Perdagangan Indonesia dan Yaman juga diharapkan menjadi lebih berimbang, tidak lagi timpang seperti yang kita lihat selama ini," ujarnya.

Ia menjelaskan, Indonesia selama ini mengekspor berbagai produk ke Yaman, antara lain produk industri makanan seperti ikan tuna, peralatan dan suku cadang kendaraan bermotor, serta semikonduktor. Sebaliknya, ekspor Yaman ke Indonesia masih didominasi komoditas seperti kurma, produk herbal, buah-buahan, dan plastik dengan nilai yang masih terbatas.

Karena itu, Bawazeer berharap pemerintah kedua negara terus memberikan dukungan agar kerja sama ekonomi dan perdagangan dapat berkembang lebih luas.

Sementara itu, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan mengatakan kerja sama tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di industri halal dunia.

Menurut Haikal, perdagangan produk halal dunia saat ini masih didominasi sejumlah negara nonmuslim seperti China, Korea Selatan, dan Brasil. Padahal Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

"Nilai perdagangan produk halal dunia masih dikuasai China, Korea, dan Brasil. Indonesia justru masih berada di urutan kedelapan. Ini menjadi tantangan bagi kita untuk mengejar ketertinggalan dan memperkuat daya saing produk halal Indonesia melalui kerja sama internasional," katanya.

Sedangkan Duta Besar Republik Yaman untuk Indonesia menyakini penandatanganan naskah kerja sama (MoU) akan semakin memperlancar masuknya produk-produk Yaman ke Indonesia, terutama dalam proses sertifikasi halal.

Ia berharap kemudahan tersebut dapat meningkatkan nilai ekspor Yaman ke Indonesia sekaligus mempererat hubungan ekonomi kedua negara.***(pjmi/aboe)

Video Terkait: