Home Opini Derita Gaza di Hari Raya, Ketika Umat Kehilangan Perisai

Derita Gaza di Hari Raya, Ketika Umat Kehilangan Perisai

92
0
SHARE
Derita Gaza di Hari Raya, Ketika Umat Kehilangan Perisai

Keterangan Gambar : Gambar/Foto : Hanya Ilustrasi & dibuat dengan AI (sumber foto : net/pjminews)

Oleh: Nurul Komariah
Aktivis Muslimah 


LEBIH - Dari 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza merayakan Idul Fitri pada hari Jumat, 20 Maret, di tengah krisis kemanusiaan yang parah, pembatasan ketat dari Israel, infrastruktur yang hancur, dan kekurangan makanan, air bersih, dan perlengkapan medis. Kantor media pemerintah Gaza melaporkan bahwa Idul Fitri tahun ini terasa berat dengan banyak keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Kantor tersebut mencatat bahwa pasukan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran perjanjian gencatan senjata sejak Oktober 2025. Pelanggaran-pelanggaran ini, seperti aksi penembakan, serangan darat, dan serangan udara, telah mengakibatkan kematian setidaknya 677 warga Palestina dan melukai lebih dari 1.800 lainnya, sebagian besar warga sipil. Terlebih lagi, tahun ini juga diberlakukan pelarangan pelaksanaan Shalat Id oleh pasukan Israel di Masjid Al-Aqsa. Mereka bahkan mengerahkan granat kejut untuk mencegah warga Palestina mengakses kompleks masjid di Yerusalem. Pasukan pendudukan Zionis memanfaatkan konflik dengan Iran untuk menutup Masjid Al-Aqsa selama 14 hari berturut-turut sebelum akhirnya membukanya kembali. Namun demikian, setelah itu, Zionis memberlakukan pembatasan masuk yang lebih ketat. 

Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang ulama dari Palestina, menyoroti dalam kitabnya “Ad-Daulah Al-Islamiyyah” bahwa kelemahan umat Muslim saat ini bukan hanya disebabkan oleh kekuatan militernya, tetapi juga oleh kekosongan kepemimpinan ideologis yang mampu menyatukan umat. Sesungguhnya, Islam adalah sistem kepercayaan yang menegaskan bahwa Allah adalah Al-Khaliq, Sang Pencipta, dan Al-Mudabbir, Sang Penguasa, sebagai dasar akidahnya, dengan hukum Islam yang kaffah atau menyeluruh sebagai landasan hukumnya. Sayangnya, kepemimpinan Islam (Khilafah) telah diruntuhkan pada tahun 1924. Kekhalifahan inilah yang mampu menyatukan umat Muslim. Anehnya, setelah keruntuhannya, umat Muslim justru malah menerima bentuk negara-bangsa yang dikendalikan oleh prinsip-prinsip kapitalis dan terpecah-pecah oleh ikatan nasionalisme. Memang, setelah jatuhnya Kekhalifahan, umat Muslim telah mengalami berbagai kesulitan. Negara-negara Muslim dengan mudah dijajah dan dieksploitasi oleh negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Eropa. Umat Muslim di Gaza, Uyghur, Rohingya, dan Kashmir mengalami penjajahan fisik, sedangkan di Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, dan negara-negara lain menghadapi penjajahan non-fisik. Hal ini terlihat jelas dari sumber daya alam yang mudah diakses, tetapi penduduk mereka masih hidup dalam kemiskinan. 

Saat ini, penderitaan penduduk Gaza semakin terabaikan karena fokus masyarakat dunia sedang beralih ke konflik antara Amerika Serikat dan Zionis melawan Iran. Sementara itu, Zionis terus memblokir Gaza dan meningkatkan blokade serta membebaskan aksi pemukiman di Tepi Barat sehingga dapat berlangsung tanpa hambatan. Ironisnya, negara-negara Arab Teluk secara diam-diam semakin meningkatkan kerja sama militer dengan negara-negara kafir, termasuk Zionis, untuk melawan Iran. Bersamaan dengan itu, mereka tampak mengabaikan penderitaan terus-menerus yang dialami oleh penduduk Gaza. 


Idul Fitri seharusnya tidak dipahami sekadar sebagai perayaan seremonial, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali makna persatuan umat. Nabi Muhammad SAW menggambarkan kaum Muslim seperti satu tubuh. Ketika satu bagian terluka, seluruhnya ikut merasakan. Karena itu, penderitaan di Gaza semestinya menjadi duka kolektif yang menggugah kesadaran umat akan realitas penindasan yang terus berlangsung, sekaligus membuka mata terhadap peran kekuatan global seperti Amerika Serikat dan Zionis yang menjadikan Palestina sekadar alat kepentingan mereka. Kesadaran ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Fath ayat 29, yang menegaskan bahwa kaum Muslim bersikap tegas terhadap pihak yang memusuhi, namun penuh kasih sayang terhadap sesama. Sikap ini lahir dari akidah dan membentuk kepribadian Islam secara utuh. 

Dari sinilah ukhuwah Islamiyyah menemukan makna hakikinya. Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 bahwa orang-orang beriman itu bersaudara, sebuah ikatan yang melampaui batas suku, bangsa, dan kepentingan duniawi. Dengan demikian, penderitaan di Gaza, Uyghur, Rohingya, Kashmir, dan berbagai wilayah lain bukanlah persoalan lokal, melainkan persoalan seluruh umat. Namun, ukhuwah saja tidak cukup jika tidak disertai kekuatan. Islam tidak hanya memerintahkan persatuan, tetapi juga menuntut ketegasan dalam menghadapi kezaliman, sebagaimana ditegaskan dalam Surah At-Taubah ayat 123. Realitas hari ini menunjukkan bahwa keterpecahan umat dalam sistem negara-bangsa telah melemahkan kekuatan kolektif, sehingga penindasan terus berulang tanpa perlawanan yang berarti. Tampak bahwa persoalan umat bukan hanya pada lemahnya empati, tetapi juga ketiadaan sistem yang mampu menyatukan dan menggerakkan kekuatan tersebut. Intinya,  Islam menempatkan pembelaan umat sebagai kewajiban yang membutuhkan dukungan kepemimpinan yang terorganisasi dan menyeluruh. Tanpa kesatuan kepemimpinan, upaya pembelaan akan selalu terhambat dan mudah dilemahkan. Sebaliknya, dengan persatuan visi, arah, dan kekuatan dalam satu kepemimpinan, umat memiliki potensi besar untuk bangkit, melindungi sesama, dan mewujudkan keadilan, termasuk dalam membebaskan Palestina dari penindasan. (*)