Gencatan senjata 14 hari antara Amerika Serikat dan Iran meredakan ketegangan di Selat Hormuz. Jalur vital energi dunia itu kembali dibuka. Pasar merespons cepat: harga minyak turun, kekhawatiran mereda.
Namun, jeda ini tidak boleh dibaca sebagai akhir dari krisis. Dalam politik global, jeda kerap menjadi ruang mengatur ulang strategi. Bukan penyelesaian. Ketegangan di Hormuz selama ini menunjukkan satu hal: betapa rapuhnya sistem energi dunia. Gangguan di satu titik bisa mengguncang banyak negara sekaligus.
Indonesia termasuk yang paling terdampak. Sebagai negara pengimpor energi, fluktuasi harga minyak langsung menekan anggaran dan daya beli masyarakat.Karena itu, meredanya situasi di Hormuz memang memberi napas. Tapi napas ini bersifat sementara. Risiko tetap ada.
Pemerintah seharusnya tidak berhenti pada respons jangka pendek. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Diversifikasi sumber energi menjadi kebutuhan mendesak. Ketergantungan pada energi fosil impor membuat posisi Indonesia rentan. Transisi menuju energi terbarukan juga tak bisa lagi ditunda. Selain mengurangi ketergantungan, langkah ini penting untuk menjaga keberlanjutan.
Masalahnya, energi tidak berdiri sendiri. Kenaikan harga energi selalu berimbas pada sektor lain, terutama pangan.
Biaya produksi dan distribusi pangan sangat dipengaruhi harga bahan bakar. Ketika energi bergejolak, harga pangan ikut terdorong naik.
Di sinilah persoalan ketahanan pangan menjadi relevan. Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas pasokan.Produksi domestik belum sepenuhnya kuat. Distribusi pun masih menyisakan banyak masalah, terutama di daerah. Ketergantungan pada impor memperbesar risiko. Saat negara pemasok mengalami gangguan, dampaknya langsung terasa di dalam negeri.
Karena itu, penguatan sektor pangan tidak bisa ditunda. Peningkatan produksi dan perbaikan distribusi harus berjalan bersamaan. Cadangan pangan nasional juga perlu diperkuat. Tanpa stok yang memadai, gejolak kecil bisa berubah menjadi krisis.
Di tengah situasi global yang tidak pasti, kewaspadaan menjadi kunci. Narasi stabilitas tidak boleh membuat lengah. Jeda di Hormuz adalah pengingat. Ketahanan energi dan pangan bukan pilihan, melainkan keharusan.***
*UBN: Penasehat Redaksi Newsroom Aqsa
#EnteringAlaqsa



444.png)





LEAVE A REPLY