Home Khazanah Islam Menyongsong Persiapan Hari Raya Qurban

Menyongsong Persiapan Hari Raya Qurban

Intisari Kotbah Jumat KH Bachtiar Nasir 24 Aprl 2026

32
0
SHARE
Menyongsong Persiapan Hari Raya Qurban

1. Memahami Hakikat ?ulqa`dah: Bulan Kesucian yang Terlupakan

Seringkali dalam dinamika kehidupan, kita terjebak dalam rutinitas yang membuat kita abai terhadap pergantian waktu-waktu mulia. Bulan ?ulqa`dah sering dianggap sebagai “bulan kosong” karena ia berada di tengah-tengah dua kegembiraan besar: Idul Fitri dan Idul Adha. Padahal, secara terminologi dan teologi, ?ulqa`dah memiliki kedudukan yang sangat tinggi.

Allah I berfirman dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lau? Ma?f??) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu).” (QS At-Taubah [9]: 36).

Empat bulan yang dimaksud adalah ?ulqa`dah, ?ul?ijjah, Muharam, dan Rajab. Disebut sebagai “Bulan Haram” karena Allah mengharamkan segala bentuk peperangan, pertikaian, dan kedzaliman di dalamnya. Mengapa Allah memberikan penekanan khusus pada bulan-bulan ini? Hal ini bertujuan agar manusia memiliki waktu jeda untuk merenung, melakukan gencatan senjata terhadap syahwatnya, dan memfokuskan diri pada pengabdian kepada Allah.

Mengenai hal ini, ulama besar dari kalangan t?bi`?n, Imam Qat?dah bin Di`?mah, memberikan peringatan yang sangat keras agar kita waspada,

“Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya daripada kezaliman di bulan-bulan lainnya, meskipun kezaliman secara umum adalah perkara besar. Namun Allah mengagungkan urusan-Nya sesuai kehendak-Nya.” (Ibnu Ka??r, Tafs?r al-Qur’?n al-`A??m, IV/288).

Pesan ini sangat jelas: Di bulan ?ulqa`dah ini, satu kata kotor yang kita ucapkan, satu fitnah yang kita sebar, dan satu tindakan zalim yang kita lakukan terhadap sesama muslim, dosanya jauh lebih berat dibanding bulan-bulan biasa. Sebaliknya, satu rukuk kita, satu butir dzikir kita, dan satu rupiah sedekah kita, nilainya dilipatgandakan oleh Allah I.

Imam Ibnu Rajab al-?anbali menambahkan −dalam kitab “La??iful Ma`?rif”− sebuah riwayat dari seorang pria suku B?hilah yang fisiknya berubah drastis karena memaksakan diri puasa terus-menerus. Nabi r menegurnya dengan bertanya,

“Siapa yang menyuruhmu menyiksa dirimu?”. Beliau r kemudian memberikan wasiat,

Berpuasalah di bulan-bulan haram dan berbukalah”. Ini membuktikan bahwa ?ulqa`dah adalah bulan yang disiapkan Allah untuk kita memperbanyak puasa sunnah sebagai bentuk pemuliaan terhadap Asyhurul ?urum.

2. Filosofi “Duduk” di Bulan Zulqa`dah

Nama Zulqa`dah berasal dari akar kata qa`ada yang berarti “duduk” atau “berhenti”. Secara historis, masyarakat Arab berhenti melakukan perjalanan dagang dan peperangan untuk duduk diam bersiap menuju ibadah Haji.

Namun bagi kita yang tidak sedang berangkat haji tahun ini, apa makna “duduk” tersebut? Maknanya adalah Muhasabah (evaluasi diri). Setelah kita melewati gemuruh kegembiraan Idul Fitri, kita diminta untuk “duduk sejenak” menenangkan hati. Kita perlu mengevaluasi sejauh mana bekas-bekas Ramadan masih menempel pada diri kita.

Zulqa`dah adalah waktu i’tikaf maknawi. Ia adalah momen persiapan ruhani sebelum kita memasuki “Hari-Hari Emas” di sepuluh hari pertama Zulqajjah. Jika kita ingin merasakan nikmatnya ibadah qurban dan indahnya puasa Arafah bulan depan, maka “pemanasannya” harus dimulai sekarang.

Perlu dicatat bahwa di antara keistimewaan bulan ini, Rasulullah r melakukan seluruh umrah beliau (sebanyak empat kali) di bulan Zulqa`dah. Ini menandakan bahwa bulan ini memiliki kemuliaan khusus untuk menjalankan ibadah-ibadah besar. Sebagaimana disebutkan dalam La??iful Ma`?rif, para salaf bahkan meyakini bahwa 30 hari yang dijanjikan Allah kepada Nabi Musa u adalah bulan ?ulqa`dah, sebelum digenapkan dengan 10 hari pertama ?ul?ijjah.

Ulama salaf Abu Bakar Al-Balkhi Ra?imahull?h memberikan analogi yang luar biasa dalam kitab La??iful Ma`?rif,

“Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam benih. Bulan Sya’ban adalah bulan untuk menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan untuk memanen hasilnya.”

Jika kita tarik analogi ini ke dalam siklus Haji dan Qurban, maka ?ulqa`dah adalah saat kita kembali memupuk tanah hati kita. Jangan biarkan hati kita gersang oleh urusan dunia sehingga saat Hari Raya Qurban tiba, kita hanya sekadar menyembelih hewan tanpa merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap tetesan darahnya.

3. Persiapan Menyongsong Hari Raya Qurban: Melampaui Ritualitas

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Beberapa pekan ke depan, gema takbir akan berkumandang di seluruh penjuru bumi. Umat Islam akan merayakan Idul Adha, sebuah hari yang juga disebut sebagai Yaumun Nahr (Hari Penyembelihan). Persiapan apa yang sudah kita lakukan di bulan Zulqa`dah ini?

A. Persiapan Hati dan Tauhid

Syarat utama diterimanya ibadah qurban bukanlah pada besar atau mahalnya hewan tersebut, melainkan pada ketulusan niat. Allah I berfirman,

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.” (QS al-?ajj [22] : 37).

Kita harus memastikan bahwa qurban kita bukan untuk pamer status sosial. Bukan agar kepala hewan qurban kita dipajang dan dibicarakan orang. Bersihkan hati di bulan Zulqa`dah ini dari penyakit riya. Ulama dari kalangan salaf saleh mengingatkan:

“Bukanlah Id (Hari Raya) itu bagi orang yang mengenakan pakaian baru, melainkan Id itu bagi orang yang ketaatannya bertambah.”

Ibnu Rajab menekankan bahwa yang terpenting bukanlah sekadar banyaknya amal secara fisik, melainkan apa yang menetap di hati. Beliau mengutip perkataan sebagian ulama, “Seseorang bisa mencapai kedudukan tinggi bukan karena banyaknya shalat dan puasa, melainkan karena kemurahan hati, kebersihan hati, dan nasihat bagi umat.

B. Persiapan Ekonomi dan Fikih Qurban

Bagi jamaah yang diberikan kelebihan rezeki, ibadah qurban adalah sebuah kewajiban moral yang sangat ditekankan. Rasulullah r memberikan peringatan keras dalam hadits riwayat Imam Ahmad,

“Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki) namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.”

Gunakan bulan ?ulqa`dah ini untuk mengalokasikan harta terbaik. Jangan memberikan sisa-sisa harta untuk Allah. Jika kita mampu membeli gadget yang mahal, kendaraan yang mewah, atau pakaian yang bermerek, mengapa untuk berqurban kita mencari yang paling kecil dan paling murah? Pilihlah hewan yang sam?n (gemuk), tidak cacat, dan musinnah (telah memenuhi umur). Ini adalah bentuk ta`??m (pengagungan) terhadap syiar Allah.

C. Persiapan Ruhani: Menyembelih Sifat Kebinatangan

Ibadah qurban memiliki akar sejarah pada kisah Nabi Ibrahim u dan Ismail u. Ini adalah kisah tentang totalitas cinta. Ibrahim diminta menyembelih sesuatu yang paling ia cintai di dunia. Pelajaran besar bagi kita: Qurban adalah tentang menyembelih apa yang kita cintai demi Dia yang kita sembah.

Dalam diri setiap manusia, terdapat sifat-sifat kebinatangan (?ifatul bah?miyyah). Sifat rakus, sifat ingin menang sendiri, sifat sombong, dan sifat malas. Maka, sebelum kita menyembelih sapi atau kambing di hari Idul Adha, gunakan bulan ?ulqa`dah ini untuk menyembelih sifat-sifat buruk tersebut di dalam diri kita.

4. Meneladani Kesabaran Salafush Shalih

Sidang Jum’at rahimakumullah,

Para salafu? ??li? sangat menghargai waktu di bulan haram. Mereka meningkatkan intensitas ibadahnya seolah-olah besok akan datang kiamat. Qat?dah berkata,

“Maka agungkanlah apa yang diagungkan oleh Allah, karena sesungguhnya perkara-perkara itu menjadi agung (mulia) disebabkan Allah yang mengagungkannya di mata orang-orang yang memiliki pemahaman dan akal.”

?ulqa`dah adalah waktu bagi kita untuk memperbanyak istighfar. Banyak ulama menyebutkan bahwa ?ulqa`dah adalah bulan di mana Allah memberikan ampunan yang luas bagi hamba-hamba-Nya yang ingin bertaubat sebelum mereka masuk ke “tanah suci” bulan ?ul?ijjah.

Jamaah sekalian rahimakumullah,

Khutbah ini tidak akan ada gunanya jika hanya menjadi angin lalu di telinga kita. Harus ada langkah nyata sebagai bukti bahwa kita menghormati bulan ?ulqa`dah.

Pertama, tetapkan niat dan alokasikan harta. Bagi Anda yang belum mendaftar qurban, lakukanlah hari ini atau esok. Jangan menunda. Niatkan bahwa qurban ini adalah tebusan bagi diri Anda dan keluarga Anda dari api neraka.

Kedua, jaga lisan dan tangan. Mengingat ini adalah bulan haram, berjanjilah untuk tidak memulai pertengkaran. Jika ada masalah dengan keluarga, tetangga, atau rekan kerja, maafkanlah. Jangan sampai kita masuk ke bulan Dzulhijjah dalam keadaan membawa beban dendam.

Ketiga, hidupkan malam dan siang dengan zikir. Karena pahala dilipatgandakan, perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan zikir pagi-petang. Sebagaimana pesan Ibnu Rajab, kesibukan membersihkan hati di bulan ini lebih utama daripada memperbanyak amal tapi hati dipenuhi penyakit.

Keempat, siapkan edukasi untuk keluarga. Ajarkan kepada istri dan anak-anak tentang makna bulan ?ulqa`dah dan sejarah Nabi Ibrahim u. Biarkan mereka paham bahwa agama ini dibangun di atas pengorbanan, bukan sekadar kesenangan.***

 

#EnteringAlaqsha