Home Opini Kesepian di Tengah Keramaian: Potret Kelam Generasi Sekuler

Kesepian di Tengah Keramaian: Potret Kelam Generasi Sekuler

42
0
SHARE
Kesepian di Tengah Keramaian: Potret Kelam Generasi Sekuler

Keterangan Gambar : Sumber Foto : ilustrasi/ist/pjminwes

Oleh: Aniza Rizky, S.Gz., M.Gizi,
Aktivis Komunitas Intellectual Talk Series Depok

September 2026 menyisakan kabar duka. Kamis (10/9/2026), seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga berusaha mengakhiri hidupnya di gedung kampusnya sendiri. Empat hari sebelumnya, Minggu (6/9/2026) dini hari, seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Sebelum pergi, ia meninggalkan pesan perpisahan dan mendonasikan Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental.

Detail terakhir itu yang paling menusuk. FS bukan orang yang tidak peduli. Ia justru memikirkan orang lain yang berjuang dengan beban serupa, sementara dirinya sendiri merasa tak punya siapa pun untuk bersandar.

Keduanya bukan kasus yang berdiri sendiri. Hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id mencatat kliennya didominasi kelompok usia 21–30 tahun. Artinya, krisis ini paling banyak menimpa mereka yang secara usia justru sedang berada di puncak tenaga dan harapan.

Inilah paradoks generasi hari ini: hidup di tengah keramaian paling padat dalam sejarah manusia, tetapi kesepian. Ribuan pengikut di media sosial, puluhan grup percakapan, notifikasi yang tak pernah habis. Namun ketika benar-benar terpuruk, banyak yang tidak tahu harus menghubungi siapa.

Sekularisme Mencabut Akidah dari Kehidupan

Akar persoalan ini jauh lebih dalam daripada urusan kesehatan mental perorangan. Kita sedang hidup di bawah sekularisme, pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan, fashl ad-d?n 'an al-hay?h.

Dalam tatanan ini agama tidak dihapus, hanya dipindahkan tempatnya. Ia mungkin tetap tercantum di kartu identitas, tetap diajarkan setidaknya dua jam sepekan, tetap hadir di perayaan hari besar. Namun, keberadaannya terbatas pada sekat-sekat individu. Agama tidak dipertanyakan ketika dihadapkan dengan permasalahan ketahanan keluarga, atau bagaimana negara membentuk masyarakat yang saling peduli. Akidah hanya terbatas pada kemampuan individu masing-masing untuk menjaganya, tanpa ada penjagaan dari masyarakat, apalagi negara. Akibatnya, akidah menjadi lebih mudah rapuh.

Manusia Diukur Produktivitas, Masyarakat Menjadi Kerumunan

Sekularisme tidak berdiri sendiri. Ia bergandengan dengan kapitalisme, yang menetapkan manfaat materi sebagai ukuran segala sesuatu, termasuk ukuran nilai seorang manusia.

Dalam logika ini, orang dihargai sejauh ia produktif. Sejak kecil anak-anak dilatih berkompetisi, bukan bekerja sama. Kuliah diposisikan sebagai investasi dan indeks prestasi sebagai imbal hasilnya. Maka ketika seseorang gagal, ia tidak sekadar merasa kalah; ia merasa kehilangan alasan untuk ada.

Di sinilah masyarakat berubah menjadi kerumunan. Hal ini sejalan dengan bagaimana kapitalisme memandang bahwa masyarakat tidak lebih dari sekadar sekumpulan individu yang tidak terhubung satu sama lain. Banyak orang, namun tanpa ikatan. Tetangga tidak saling mengenal, kerabat bertemu setahun sekali, dan duka ditanggung sendiri di kamar sewa yang sempit. Kesepian pun menyerang bahkan mereka yang secara materi berkecukupan.

Semua ini bukan kecelakaan budaya. Ia buah dari negara yang menerapkan sekularisme-kapitalisme. Negaralah yang menetapkan kurikulum sekuler pembentuk individu rapuh. Negaralah yang menjalankan ekonomi kapitalistik sehingga biaya pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal menghimpit. Negaralah yang membiarkan kekayaan alam dikuasai segelintir pihak, sementara rakyat diminta bertahan sendiri-sendiri.

Moderasi Agama Bukan Jalan Keluar

Di tengah krisis sebesar ini, yang ditawarkan justru moderasi agama. Perlu dicatat, moderasi bukan kesimpulan yang lahir dari dalil. Ia sebuah program dengan anggaran, kurikulum, dan indikator capaian, dan setiap program punya tujuan yang dirancang.

Islam diminta hadir sebatas penenang jiwa, bukan pengatur kehidupan. Ulama dipersilakan berbicara akhlak dan kesabaran, tetapi diminta menjauh dari urusan pendidikan, ekonomi, dan kebijakan negara. Padahal justru di wilayah itulah anak-anak muda kita sedang dipatahkan.

Di sini letak kegagalannya. Moderasi memperlakukan Islam sebagai spiritualitas pribadi, sementara akar persoalan berada tepat di wilayah yang dinyatakan bukan urusan agama. Menawarkan moderasi untuk menjawab krisis ini seumpama menyodorkan pereda nyeri kepada orang yang tulangnya patah.

Lebih jauh, “moderat” dan “radikal” bukanlah kategori syar'i. Seorang Muslim tidak pernah diminta menakar seberapa banyak Islam yang layak ia jalankan. Ia diminta taat. Allah SWT berfirman, yang artinya :

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi kaum yang yakin?” (TQS al-Ma'idah [5]: 50)

Islam Menyembuhkan dari Akarnya

Islam menawarkan penyelesaian yang bekerja pada tiga lapis sekaligus.

Pertama, akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Anak dididik memahami bahwa hidupnya bertujuan, bahwa ada Zat yang selalu menyertainya, dan bahwa setiap beban ada ukurannya. Larangan tegas mengakhiri hidup pun hadir bukan untuk menghakimi mereka yang sudah kepayahan, melainkan sebagai pagar terakhir yang menahan seseorang di tepi jurang, sekaligus kabar bahwa nyawanya berharga di mata Allah SWT, meski dunia tak mengakuinya.

Kedua, ikatan keluarga dan masyarakat yang dibangun di atas akidah. Rasulullah ? menggambarkan kaum mukmin bagaikan satu tubuh: bila satu bagian sakit, seluruhnya turut merasakan. Amar makruf nahi mungkar menjadikan kepedulian sebagai kewajiban, bukan pilihan. Tidak seorang pun dibiarkan menanggung bebannya sendirian.

Ketiga, syariat Allah SWT sebagai kedaulatan tertinggi, diterapkan negara secara kaffah. Sistem pendidikan berbasis akidah membentuk kepribadian, bukan sekadar mencetak tenaga kerja. Sistem ekonomi Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap warga dan mengelola kekayaan alam untuk rakyat, sehingga tekanan hidup yang memicu keputusasaan diangkat dari akarnya.

Dari tiga pilar inilah lahir individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh dan kesepian.

Kesepian generasi hari ini bukan takdir, dan bukan semata gangguan yang berdiri sendiri pada diri seseorang. Ia buah sebuah sistem yang menyingkirkan Allah SWT dari pengaturan kehidupan, lalu meninggalkan manusia sendirian menanggung penderitaan.

Selama akidah tetap dijauhkan dari kehidupan dan Islam hanya diizinkan menjadi penghias, kita akan terus membaca berita seperti September ini. Yang dibutuhkan bukan Islam yang dimoderasi, melainkan Islam yang diterapkan.

Sudah waktunya umat berhenti menambal gejala, dan mulai memperjuangkan akarnya. WalL?hu a'lam bi ash-shaw?b.

Sumber : 
[] Diduga Berniat Bunuh Diri, Mahasiswa Kedokteran Universitas Brawijaya Lompat dari Lantai 6 Kampus — Kompas.id 
[] Membaca Pesan dari Pria yang Mengakhiri Hidup di GBK — Kompas.id