Home Khazanah Islam Persiapan Bekal 10 Hari Pertama Zulhijjah

Persiapan Bekal 10 Hari Pertama Zulhijjah

Intisari Khotbah UBN, Jumat 1 Mei 2026

19
0
SHARE
Persiapan Bekal 10 Hari Pertama Zulhijjah

Keterangan Gambar : Ustad Bachtiar Nasir (UBN): foto dok

Beberapa hari ke depan, tak sampai satu bulan, kita akan memasuki sebuah gerbang waktu yang sangat sakral. Sebuah momentum yang sering kali terlupakan oleh sebagian besar umat Islam karena jaraknya yang cukup dekat dengan Idul Fitri dan hiruk-pikuk persiapan liburan. Momentum itu adalah Sepuluh Hari Pertama  Zulhijjah.

Keagungan sepuluh hari ini bukanlah klaim manusia, melainkan ditegaskan langsung oleh Sang Pencipta waktu. Allah SWT berfirman, “Demi fajar dan malam yang sepuluh.” (QS Al-Fajr [89]: 1-2).

Al-Hafiz Ibnu Katsir menukil pendapat para sahabat dan tabiin bahwa yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh hari pertama Zulhijjah. Ketika Allah bersumpah, maka ada hal yang penting terkait yang dijadikan sumpah. Dalam tafsir Al-Muntasir disebutkan,“Sesungguhnya Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang agung.” (Al-Kattani, Tafsir  al-Munta?ir, II/255).

Jika Allah SWT bersumpah demi waktu ini, maka di dalamnya tersimpan rahasia pahala yang tidak ditemukan di waktu lainnya, bahkan melampaui keutamaan hari-hari di bulan Ramadan dalam beberapa aspek.

Rasulullah SAW memberikan testimoni yang sangat luar biasa mengenai kualitas amal di hari-hari ini. Beliau bersabda,

Tidak ada hari-hari di mana amal shalih di dalamnya lebih  dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari pertama (Zulhijjah) ini.” (HR Ahmad dan Ibnu .

Sahabat bertanya, “Bahkan jihad sekalipun?” Rasulullah SAW  menjawab bahwa jihad pun kalah nilainya, kecuali orang yang pergi membawa seluruh hartanya dan nyawanya lalu tidak kembali lagi (mati syahid).

Mengapa demikian? Al-Hafidz Ibnu ?ajar Al-Asqalani menjelaskan dalam “Fathul Bari” (II/460),

Penyebab istimewanya sepuluh hari Zulhijjah adalah karena terkumpulnya induk-induk ibadah di dalamnya, yaitu: salat, puasa, sedekah, dan haji. Hal ini tidak terjadi di waktu selainnya.”

Di hari-hari ini, seorang hamba bisa melaksanakan rukun Islam secara komplit. Inilah “Harvest Moon” atau bulan panen raya bagi para pencari rida Allah.

Menghadapi hari yang besar memerlukan persiapan yang besar pula. Jangan sampai kita memasuki 10 hari Zulhijjah dengan hati yang kotor dan raga yang malas. Berikut adalah bekal utama kita:

1. Bekal Taubat Nasuha

Sebelum kita menanam benih amal, kita harus mencabut duri-duri dosa dalam hati. Dosa adalah penghalang (hijab) antara hamba dengan kemanisan ibadah. Imam Hasan Al-Basri pernah berkata,

Sesungguhnya seorang hamba melakukan satu dosa, maka karenanya ia terhalang dari melakukan salat malam.” (Abu ??lib Al-Makki, Qut al-Qulub, I/76).

Maka, bekal pertama adalah beristigfar dan bertaubat dari segala kezaliman, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.

2. Bekal Tekad dan Niat (Al-Azmu)

Siapkan niat yang bulat. Niatkan bahwa dari tanggal 1 hingga 10 Zulhijjah, tidak ada satu detik pun yang terbuang sia-sia. Ulama salafus salih berkata,

“Niat seorang mukmin itu lebih baik (lebih sampai) daripada amalnya.” (Al-Baihaqi, Syu'abu al-Iman, IX/176).

3. Bekal Zikir yang Intensif

Allah SWTberfirman mengenai hari-hari ini, “...dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (QS Al-?ajj [22]: 28).

Lidah kita harus basah dengan takbir, tahmid, dan tahlil. Jangan malu untuk mengeraskan takbir di rumah-rumah kita, di pasar, dan di jalanan sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radiyallu Anhuma.

Zulhijjah bukan sekadar angka di kalender, ia adalah monumen sejarah ketaatan. Di sinilah kita mengenang Nabi Ibrahim as.,  Siti ?ajar, dan Nabi Ismail. Bekal yang mereka miliki saat menghadapi ujian berat adalah “Taslim” atau ketundukan total.

Ketika Ibrahim as. diperintahkan menyembelih putranya, beliau tidak menggunakan logika “mengapa”, tapi menggunakan logika “cinta”. Ibrahim as. mengajarkan kepada kita nilai penting,

Tidak ada yang dicintai dengan sebenar-benarnya kecuali Allah.” Senada dengan ungkapan ini, meminjam istilah penulis tafsir “Ruh al-Bayan”,

Tidak ada yang dicintai dan dituju kecuali Allah.”  (Ismail Haqqi, Ruh al Bayan, II/146). 

Persiapan bekal Zulhijjah kita haruslah mengarah pada penyembelihan “Ismail-Ismail” kecil dalam diri kita yaitu keterikatan duniawi yang berlebihan, kesombongan, dan rasa memiliki yang melampaui batas. Kurban yang akan kita laksanakan nanti adalah simbol bahwa kita lebih mencintai Sang Pencipta daripada ciptaan-Nya.

Selain itu, jangan lupakan bekal fisik untuk berpuasa, terutama pada hari Arafah (9 ?ul?ijjah). Rasulullah SAW menjanjikan,

»Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim).

Lalu bagi yang memiliki kelapangan, siapkan hewan kurban terbaik. Jangan mencari yang paling murah, tapi carilah yang paling gemuk dan sehat. Sahabat bertanya tentang kurban, Nabi SAW menjawab,

“Pada setiap helai bulunya terdapat satu kebaikan.” (HR Ahmad).

Hadis ini menunjukkan betapa besar pahala kurban, bahkan setiap bulu hewan yang dikurbankan bernilai kebaikan di sisi Allah. Karena itu, semakin baik dan sehat hewan yang dipilih, semakin besar pula pahala dan keutamaan yang didapatkan, serta semakin nyata pengorbanan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain itu, ada satu syariat yang bersifat teknis namun sangat penting bagi setiap muslim yang berniat melaksanakan ibadah kurban. Begitu hilal bulan Dzulhijjah telah terlihat, atau ketika kita sudah memasuki tanggal satu Zulhijjah, maka bagi siapa saja yang ingin berkurban, ia dilarang untuk memotong rambut dan kukunya sampai hewan qurbannya disembelih.

Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang sangat jelas, “Apabila telah masuk sepuluh hari pertama (Zulhijjah) dan salah seorang di antara kalian hendak berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut dan kulitnya (kuku) sedikit pun.” (HR Muslim)

Oleh karena itu, sebelum matahari terbenam di akhir bulan Zulqa'dah (sore hari sebelum masuk 1 Zulhijjah), segeralah rapikan rambut dan potong kuku Anda. Setelah memasuki tanggal 1 Zujlhijjah, tahanlah diri Anda dari memotongnya sebagai bentuk kepatuhan total kepada sunnah Nabi Muhammad SAW.***