Oleh: Suko Wahyudi.
Kolumnis dan Pegiat Literasi
Amar makruf nahi munkar barangkali merupakan salah satu istilah keagamaan yang paling sering kita dengar. Ia hadir dalam khutbah, pengajian, buku-buku keislaman, bahkan percakapan sehari-hari. Tetapi semakin sering sebuah istilah diucapkan, terkadang semakin jarang kita bertanya apakah maknanya masih utuh. Amar makruf sering berhenti pada ajakan berbuat baik, sementara nahi munkar sibuk mencari perbuatan buruk yang dilakukan orang lain. Kita kemudian merasa telah menjalankan agama ketika berhasil mengingatkan orang lain, padahal belum tentu kita bertanya apakah kehidupan di sekitar kita telah menjadi lebih manusiawi.
Kuntowijoyo pernah memberikan pemaknaan yang patut direnungkan. Amar makruf bukan hanya mengajak manusia melakukan kebaikan dalam pengertian ritual, melainkan merupakan usaha memanusiakan manusia. Sebaliknya, nahi munkar adalah usaha membebaskan manusia dari berbagai keburukan yang membelenggunya. Pengertian semacam ini membuat agama bergerak dari ruang ceramah menuju ruang kehidupan. Manusia yang lapar, bodoh, tertindas, diperlakukan tidak adil, atau kehilangan kesempatan untuk hidup layak tidak cukup hanya diberi nasihat agar bersabar. Ia membutuhkan tangan yang membuka jalan keluar.
Di sinilah kita menemukan persoalan Indonesia hari ini. Kita hidup dalam masyarakat yang secara statistik religius, tetapi pada saat yang sama masih berhadapan dengan korupsi, kemiskinan, ketimpangan, kekerasan, diskriminasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Kita memiliki banyak rumah ibadah, banyak majelis ilmu, banyak ceramah, dan banyak orang yang berbicara tentang moral. Tetapi kehidupan manusia tidak otomatis menjadi lebih baik hanya karena kata-kata tentang kebaikan semakin banyak. Ada jarak yang kadang terlalu lebar antara kesalehan yang dibicarakan dan kenyataan sosial yang dijalani.
Kemiskinan, misalnya, sering kita jawab dengan sedekah. Sedekah tentu merupakan kebaikan. Tetapi kemiskinan tidak selalu lahir karena seseorang malas bekerja atau kurang bersyukur. Ada persoalan pendidikan, kesempatan kerja, kepemilikan modal, kebijakan ekonomi, dan struktur sosial yang membuat seseorang terus berada di bawah. Jika amar makruf dimaknai sebagai memanusiakan manusia, maka kepedulian terhadap orang miskin tidak boleh berhenti pada memberi bantuan ketika mereka lapar. Kita juga perlu bertanya mengapa mereka terus lapar dan mengapa sebagian orang lain dapat hidup berlebihan.
Begitu pula korupsi. Kita sering menyebutnya sebagai kejahatan, tetapi belum tentu menghayatinya sebagai kemungkaran yang mempunyai korban manusia. Uang publik yang hilang tidak berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan. Di baliknya terdapat hak masyarakat yang ikut hilang. Ada ruang kelas yang tidak dibangun, fasilitas kesehatan yang tidak tersedia, pelayanan publik yang buruk, dan kesempatan anak-anak miskin yang semakin sempit. Jika demikian, melawan korupsi bukan sekadar urusan aparat penegak hukum. Ia juga merupakan bagian dari nahi munkar karena korupsi membelenggu kehidupan banyak manusia.
Kita juga perlu melihat perubahan tempat berlangsungnya kehidupan manusia. Dahulu orang bertemu di pasar, sekolah, kantor, masjid, atau ruang keluarga. Sekarang sebagian besar perjumpaan itu berlangsung di layar. Orang yang belum pernah bertemu dapat saling memuji dan saling membenci. Sebuah berita dapat berpindah dari satu tangan ke tangan lain sebelum kebenarannya diperiksa. Satu potongan video dapat membuat seseorang dihakimi ribuan orang. Dalam dunia seperti ini, keburukan tidak selalu berupa tindakan yang dilakukan di depan mata. Ia bisa berupa satu klik, satu unggahan, satu komentar, atau satu informasi palsu yang kita sebarkan.
Maka, menjaga jari menjadi sama pentingnya dengan menjaga lisan. Orang yang memilih tidak menyebarkan kabar yang belum jelas sebenarnya sedang melakukan sebuah tindakan moral. Orang yang tidak ikut mempermalukan orang lain di media sosial sedang menjaga martabat manusia. Orang yang menolak ikut membenci hanya karena algoritma mempertemukannya dengan kebencian sedang melakukan bentuk nahi munkar yang mungkin tidak pernah disebut dalam buku-buku lama, tetapi sangat diperlukan dalam kehidupan sekarang.
Namun ada sesuatu yang lebih sulit. Kita sering memiliki keberanian besar untuk melakukan nahi munkar kepada orang lain, tetapi kehilangan keberanian ketika kemungkaran datang dari kelompok sendiri. Kesalahan orang yang berbeda dengan kita tampak besar. Kesalahan orang yang kita cintai terasa kecil. Ketika lawan melakukan keburukan, kita menyebutnya kemungkaran. Ketika kawan melakukan hal yang sama, kita menemukan alasan untuk memakluminya. Di sinilah agama berhadapan dengan kepentingan manusia. Bukan perkara mudah menjaga kebenaran ketika kebenaran itu menuntut kita mengoreksi orang yang dekat dengan kita.
Padahal kebenaran tidak semestinya mempunyai kartu anggota. Korupsi tetap korupsi siapa pun pelakunya. Kebohongan tetap kebohongan meskipun keluar dari mulut orang yang kita kagumi. Ketidakadilan tetap ketidakadilan meskipun dilakukan oleh mereka yang selama ini kita anggap sebagai kelompok sendiri. Amar makruf nahi munkar justru kehilangan daya moralnya ketika ia hanya digunakan untuk menghakimi mereka yang berbeda dan tidak pernah diarahkan kepada diri sendiri.
Karena itu, mungkin yang perlu kita perluas bukan hanya pengertian amar makruf nahi munkar, tetapi juga medan keberanian moral kita. Masjid tidak harus berhenti sebagai tempat orang datang untuk beribadah. Ia dapat menjadi tempat masyarakat belajar, memperoleh pendampingan, mengembangkan ekonomi, membaca persoalan lingkungan, dan membangun solidaritas. Pengajian tidak harus kehilangan pembicaraan tentang akhirat ketika berbicara tentang kemiskinan, pendidikan, korupsi, demokrasi, atau kehidupan digital. Justru di sanalah ajaran agama diuji: apakah ia mampu menjawab penderitaan manusia yang nyata.
Dakwah pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang mendengarkan kita berbicara. Dakwah juga tentang seberapa banyak manusia yang kehidupannya berubah karena kebaikan yang kita perjuangkan. Orang miskin yang memperoleh kesempatan hidup lebih baik, anak yang kembali sekolah, masyarakat yang berani melawan korupsi, warga yang terbebas dari kebencian, dan lingkungan yang terselamatkan dari kerusakan merupakan bagian dari wajah amar makruf nahi munkar yang lebih luas.
Mungkin karena itu kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya hendak dicapai oleh amar makruf nahi munkar? Jika jawabannya hanya agar orang lain mengikuti apa yang kita anggap benar, maka agama mudah berubah menjadi alat penyeragaman. Tetapi jika tujuannya adalah memanusiakan manusia dan membebaskannya dari berbagai belenggu, maka agama mempunyai pekerjaan yang jauh lebih besar.
Indonesia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana kebaikan itu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana agama hadir ketika orang miskin membutuhkan kesempatan, ketika masyarakat membutuhkan keadilan, ketika kekuasaan membutuhkan kritik, dan ketika ruang digital membutuhkan kejujuran.
Amar makruf nahi munkar dengan demikian tidak selesai di mimbar. Ia harus turun ke kehidupan. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan nasihat tentang bagaimana menjadi baik. Manusia juga membutuhkan lingkungan sosial yang memungkinkan dirinya hidup sebagai manusia yang bermartabat.
Barangkali amar makruf yang paling penting hari ini adalah membuat manusia merasa dihargai sebagai manusia. Dan nahi munkar yang paling mendesak adalah melawan segala sesuatu yang membuat manusia kehilangan martabatnya. (*)








LEAVE A REPLY